15 September 2013

  • Dinamit yang Berbohong

    Barusan dikirimin YouTube video dari Ade Naufal, dapat dipakai untuk bahan ketawa, pelajaran bagi kita untuk "tidak sok berani untuk lompat kedalam kolam hiu" dan tak sembarangan mencari video editor untuk bahan promosi, belajar Adobe After Effects secara full dan tidak setengah-setengah, serta dijadikan bahan pertimbangan untuk beberapa diantara kalian yang berencana menipu calon pebisnis.


    Ada belasan orang --menyebut diri mereka "Team A Dinamit"-- yang cukup berani untuk diejek pengguna YouTube dan netters dengan menunjukkan tampang mereka didepan green screen serta meneriakkan propaganda untuk bergabung dengan bisnis mereka, dari deskripsi yang dituliskan, video ini diketahui merupakan promosi bisnis MLM Melia Sehat Sejahtera (mulai sekarang hati-hati [kalau perlu jauhi] dengan group ini).  Jika dirasa sulit menemukan bukti bahwa video ini sekedar editan, perhatikan background yang mereka klaim adalah menara Eiffel, terlihat goyang-goyang. Manipulasi latar seperti ini dapat dilakukan dengan cukup mudah menggunakan teknik chroma keying. Masalahnya, editor video ini asal-asalan mengambil rekaman video Eiffel Tower untuk dijadikan background, hasilnya? Bahan ketawa yang cukup menarik untuk saya.

    Beberapa menit kemudian Ade mengirimkan lagi video lain yang merupakan balasan untuk video ini, berlatar di Marina Bay Sands, Singapura:


    Bagi anda yang merasa offended karena penipuannya diejek, perlu ditegaskan anda tak berhak untuk marah, I see no reason to respect you, liar!

  • 05 June 2013

  • Berguna

    Beberapa speech disini juga terinspirasi dari speech guru-guru saya semasa SMA.

    Singkat saja, saya masuk SMA Sutomo 1 Medan dan sekarang saya duduk di bangku kelas X SMA. Tak bisa saya ceritakan bagaimana prosesnya karena sudah lama disini.

    Saya menulis post ini bukan karena saya merasa sudah melakukannya, atau merasa lebih berguna dari orang lain, saya menulis post ini karena memang ada baiknya kita merenungkannya bersama-sama.

    Pernah tidak anda berpikir, hal-hal berguna apa saja yang telah anda lakukan untuk lingkungan anda? Tak perlu jauh-jauh untuk negara (untuk tetangga ndiri aja dah kejauhan kok), untuk keluarga sendiri deh. Mulai kita pertama kalinya menghirup oksigen diluar tubuh Ibu sendiri hingga sekarang duduk manis membaca tulisan ini, pernah tidak sedikit saja terpintas di otak kita, sudahkah ada hal berguna yang kita lakukan?

    Saya tiba-tiba ingin menulis post ini setelah ada salah seorang teman sekelas saya, tak perlu disebutkan namanya, apalagi pake alias seperti post ini, yang ditegur oleh guru saya karena ketidakinginannya untuk  meningkatkan nilainya, (memang sih, ada yang berpendapat bahwa nilai bukan segalanya, dan bukan satu-satunya hal yang bisa menjadi tolak ukur "kualitas" seseorang, tapi meskipun bukan satu-satunya, ia [nilai] tetap dapat digunakan untuk "pengukuran" tersebut bukan?) setelah itu sang guru melanjutkan, "tak maukah kamu jadi orang berguna di masa depan?".

    Credit goes to firewithinmidnight and lasonicchiana

    Saya jadi teringat pada cerita guru saya, ada seseorang yang dimasa mudanya tak peduli ia mau menjadi apa, hingga akhirnya hanya mempersulit keluarganya karena tak bisa apa-apa, dan disaat dia meninggal, Tuhan berkata kepadanya bahwa Ia telah menyesal menciptakan makhlukNya yang satu ini, karena ternyata Dia menciptakannya hanya untuk menjadi penambah masalah keluarganya. Memang, saya tahu itu hanya cerita belaka yang saya yakin tak bakal terjadi (penyesalan oleh Tuhan? Hell no, that won't happen!). Tapi itu bisa menjadi bahan renungan kita untuk menjadikan kita lebih berguna di masa depan.

    Ok, misalnya deh kita dilahirkan oleh Ibu yang kaya raya, ditambah lagi ternyata Ibu kita adalah istri dari Ayah kita yang berlimpah harta, sehingga pepatah "Harta tak habis 7 turunan" pun bisa saja cocok dipasangkan pada keluarga kita. Karena keberlimpahan harta orang tua kita -yang secara otomatis diturunkan ke kita-, kita merasa tak perlu lagi susah-susah bekerja, everything I need's already here. Ha? Beneran? Coba pikir, jika dewasa nanti, punya pasangan hidup dan akhirnya memiliki anak, ditemani oleh kekayaan melimpah yang ternyata cuma turunan dari kekayaan orang tua, bagaimana jika akhirnya anak-anak kita bersikap malas-malasan dan ikutan terdoktrin oleh pemikiran orang tuanya? "Tak perlu susah bekerja, semua sudah tersedia", tidak mungkin kita memarahi anak kita dengan berkata "Untung saja kakekmu kerja keras untuk membiayai kita!", bukan salah dia jika dia membalas bahwa kita juga hidup seperti ini di masa muda. Bukan begitu?

    Maka dari itu, sama seperti sebuah quote yang pernah saya tulis (sekarang sudah dihapus), you're useless, unless you do something useful. Jangan menjadi orang yang tak berguna, lakukanlah sesuatu, buatlah karya-karya, a masterpiece, yang dapat membuat kita menjadi berguna. Bagi kita sendiri, keluarga kita, dan bahkan orang lain.

  • 05 May 2012

  • Farewell Party di SMP Hardu Medan

    Semua ujian telah dilalui, susah payah yang dialami digantikan dengan senang-senang sepanjang hari, termasuk Farewell Party (pesta perpisahan) anak-anak kelas 9 dan Akselerasi tahun kedua oleh SMP Hardu yang kuikuti, 5 Mei 2012 lalu.

    Pesta perpisahan ini juga diikuti orang tua murid, termasuk orang tua saya. Walaupun begitu saya disuruh orang tua saya untuk bergabung teman-teman, saya hanya bilang "Iya", lagipula saya memang ingin bergabung teman-teman, terutama Ade dan Reza. Pada awalnya saya duduk manis di auditorium sekolah bersama teman-teman yang lain, makin lama tentu saya makin bosan, akhirnya saya memutuskan untuk keluar auditorium dan bergabung dengan Ade dan Reza yang ternyata duluan berada diluar. Mereka juga sedang bersama teman-teman yang lain.

    Dimulai dari foto-foto diluar auditorium, di situ lebih banyak anak-anak cewek berkeliaran, mukanya sama sekali tidak ada yang aku kenal, kecuali satu orang, dan saya tidak akan membicarakannya, setelah foto-foto, saya, Reza, Ade dan beberapa teman lain menjelajahi kampus sekolah yang sangat sepi, karena semuanya sudah pulang, kami berkeliling dan menjelajah layaknya kelompok pecinta alam yang sedang menjelajahi hutan.

    Kami berhenti sebentar di sebuah kantin, ada pintu kantin yang terbuka disitu, selama ini kami tidak diizinkan untuk memasuki ruangan dengan pintu terbuka itu, maka saya dan Reza iseng masuk kedalam sambil merekam hal-hal apa saja yang kami lihat, nanti deh saya upload videonya di YouTube.

    Setelah berkeliling, semua orang mulai berpencar, ada yang mau kembali ke auditorium, ada yang mau menetap di sebuah tempat saja dan ada yang masih mau mengikuti kami, hingga akhirnya semua sudah pergi, tinggal saya, Ade dan Reza saja yang ada, akhirnya saya pun berpisah dengan mereka juga.

    Beberapa waktu setelah itu, kami ingin berkumpul lagi, akhirnya saya dan teman-teman lain mencari Ade dan Reza, setelah bertemu mereka, Reza memanggil saya dan berkata bahwa ada yang perlu dikatakan, seperti biasa, kami berbicara tentang suatu rahasia yang hanya boleh diketahui saya, Ade dan Reza, dan makhluk lain yang dikehendaki Tuhan. Teman-teman lain tidak boleh tahu, akhirnya "teman-teman lain" itupun pergi, karena malas menunggu kami selesai bicara.

    Pembicaraan selesai, tak beberapa lama ternyata sudah mulai doa, kami pun kembali ke Auditorium dan berdoa, setelah itu salam-salaman dengan guru SMP Hardu yang sudah membimbing saya dan teman-teman dalam belajar, bahkan guru paling pendisiplin sekalipun terharu melihat kami, ya saya juga sih, dan akhirnya kami pulang dengan senang.

  • 04 May 2012

  • Single = Happy, Benarkah?

    Post ini mungkin bisa berperan sebagai "sekuel" dari post terdahulu tentang merubah perasaan, karena ini adalah post kedua saya yang bertemakan cinta (agak ngeh waktu bilang "cinta" nih). Ok, to the point, ketika saya sedang melihat-lihat timeline di Twitter, saya melihat dua orang tweeps yang bertengkar tentang hubungan mereka. Mereka sudah berpacaran cukup lama, lalu tak lama kemudian saya kembali menemukan satu tweep yang mengeluhkan hubungannya dengan pacarnya, lalu saat saya sedang berada di real-life, saya melihat teman sekelas saya yang menangis tersedu-sedu, saya tanyakan kepada teman dekatnya yang juga teman dekat saya apa masalah dia, ternyata masalah pacaran. Kemudian masih banyak teman-teman saya yang lainnya yang mukanya kusut, galau dan lain-lain, ketika ditanya apa masalahnya, mereka menjawab satu kata yang persis sama, pacaran.

    Credit goes to GraphixS6

    Dari situ saya mulai berpikir, apakah iya dengan memiliki pacar maka hidup akan terasa tak bebas? Terkekang? Tak tenang? Karena jarang sekali saya lihat orang memiliki pacar tapi hidupnya senang, ok, saya berikan pengecualian kepada Ade, karena hubungan dia dengan pacarnya berjalan lancar. Kembali ke topik, saya melihat banyak orang memiliki pacar tapi hidupnya tak terlalu menyenangkan, bahkan ada yang melampiaskan rasa tidak senangnya ke Twitter, umumnya berupa tweets galau yang tidak jelas.

    Melirik ke orang-orang yang selama ini single, kita tidak usah ambil sampel jauh-jauh, karena saya sendiri single. Hidup saya Alhamdulillah sangat tenang, bebas, tak terkekang dan menyenangkan, padahal saya sendiri tak punya pacar. Teman-teman saya yang satu nasib (single) pun demikian, wajah mereka terlihat lebih terang dan riang, hidupnya pun sama seperti saya.

    Kali ini saya tidak perlu menulis ulasan ini panjang-panjang, karena saya sudah dapat poin utamanya, setelah saya memikirkannya, mungkinkah lebih baik kita menjadi single saja? Atau mungkin anda punya pendapat lain?

  • 30 April 2012

  • Merubah Perasaan 179 Derajat!

    Sebenarnya saya berniat menghapus post ini, tapi setelah saya pikir-pikir bagus juga untuk menyimpan "history" atas sesuatu hal yang terjadi karena emosi yang berlebihan. Mungkin untuk kenangan dan sebagai bahan candaan untuk dewasa nanti. Dan ya, salah satu dari sekian banyak "history" tersebut adalah post ini.

    Dan sebagai tambahan, reflek tubuh saya langsung bekerja untuk melakukan double facepalm waktu membaca post ini. 

    Mengubah perasaan? Ya, itulah yang saya lakukan terhadap cewek yang sempat saya sukai, wah, tumben sekali saya membicarakan cinta! Sebenarnya kejadian ini sudah lumayan lama saya alami, tapi tak mengapa, karena manfaatnya (jika ada) tetap dapat diambil orang-orang yang membaca post ini.

    Credit goes to wikimedia

    Saat itu saya masih berada dalam suasana panas merinding menghadapi UN, sebut saja cewek yang (sempat) saya sukai adalah Jane, kenapa Jane? Karena nama sebutan "Bunga" menurut saya terlalu norak dan mainstream, kembali ke topik, saat pertama melihat dia pada awal kelas 9, saya tidak punya perasaan apa-apa ke dia, saya masih menyukai cewek yang satu lagi (dan tidak akan saya bicarakan) sejak kelas 8 dulu. Saya mulai menyukainya karena parasnya yang cantik (dilihat dari mata saya dulu) dan sikapnya yang sopan, pintar menjaga diri namun terbuka dengan orang-orang, saya mulai punya rasa terhadap dia sejak sekitar pertengahan semester 5.

    Singkat cerita, saya hanya bisa fallin' in love secara diam-diam dengan dia, mulai pertengahan semester satu hingga beberapa minggu menjelang UN, berbagai cara untuk mendekati dia sudah dilakukan, tapi ternyata, menurut saya kami berdua hanya bisa menjadi teman, hanya teman! Tak lebih! Hingga akhirnya pada suatu hari saat gelap telah tiba (singkatnya: malam hari) tidak tahan karena sudah cukup lama tidak melihat dia (saat itu sedang ada libur panjang dari sekolah), akhirnya dengan (mungkin) ceroboh saya menembak dia, lewat Direct Message (DM) Twitter (maklum, sudah tak tahan)! Tidak ada balasan apa-apa, saya sudah berpikir saya pasti ditolak, pasti ditolak!

    Malam itu adalah hari libur panjang terakhir, keesokan harinya, saat masuk sekolah, saya belum melihat dia, setelah beberapa lama hingga bel pelajaran dimulai, baru beberapa menit setelah bel dia datang, tapi kali ini ada yang berbeda, saya dikacangin, dari situ saya sudah punya kesimpulan, saya ditolak.

    Sedih? Itu sudah pasti, tapi tidak sampai galau dan menangis berhari-hari, itu abnormal dan terlalu berlebihan.
    Marah? Oh, tidak, saya tak marah, saya sadar bahwa dia punya hak untuk menolak dan menerima.

    Tapi ternyata saya harus menarik kembali kata-kata saya bahwa saya tak marah, karena ternyata perasaan marah itu muncul. Bukan! Saya tidak marah karena dia menolak saya, saya marah karena dia curhat ke teman saya yang juga cewek, lalu teman saya itu mengatakan sama saya "Kata si Jane, dia benci nengok kau gara-gara hal itu"

    Hey! Apakah perlu sampai begitu? "Benci melihat dia", 3 kata yang menurut saya sangat merendahkan martabat, saya tidak marah kamu menolak saya, tidak sama sekali! Saya bahkan ingin kembali berteman seperti dulu, tapi semua itu, saya katakan lagi semua itu, sudah saya buang jauh-jauh, gara-gara hal begitu saja sampai harus benci, dan menjauhi... Merendahkan sekali sih?

    Dan akhirnya saya melihat profil Twitter dia, hal pertama yang saya lihat adalah ternyata dia masih follow saya, tak peduli dengan keadaan itu, saya langsung menekan tombol unfollow dan membiarkan dia masih follow saya. Setelah beberapa hari dia baru sadar bahwa saya sudah unfol dia, dan dia pun juga balas meng-unfollow saya, setelah saya mengetahuinya saya ambil langkah terakhir. Yaitu menekan tombol Block jadi saya tidak bakal bisa melihat tweets dia, begitu juga sebaliknya. Sejak saat itulah perasaan saya ke da berubah 179 derajat. Mengapa 179? Karena ternyata saya masih punya "secuil" rasa suka ke dia, yang terkikis sedikit demi sedikit.

    Oh ya, saya lupa satu hal, sebenarnya kemarahan yang datang ke diri saya bukan datang dengan sendirinya, justru saya sendiri yang mendoktrin otak dan pikiran saya untuk membenci dia, saya mulai berpikir dengan 3 kata yang dia sebutkan saat itu, lalu dari situ saya menginterpretasikan bahwa dia mulai merendahkan harga diri saya. Kamu begitu sama saya, sayapun berbuat demikian! Dan sekarang, sedikit demi sedikit saya mulai memenuhi yang "satu derajat" itu. Hingga saya sudah tak punya rasa ke dia.

    Lalu bagaimana kalau mencari cewek lain? Ah tidak, untuk saat ini saya tak mau cari cewek lain, bukan karena trauma, dan bukan karena masih suka sama dia!!! Saya tak mau karena saya ingin berusaha fokus untuk masuk ke SMA favorit. Mungkin setelah itu baru saya bakal dapat keinginan lain lagi.

    Lalu bagaimana perasaan saya hari ini? Senang, tenang dan merasa bebas karena tidak dibebani dengan memikirkan dia. Seharusnya saya merasa seperti ini sejak dulu!

  • 27 April 2012

  • Pelecehan SARA dan Remaja Labil: Agama SM*SH yang Laknat

    Memang benar kata orang bahwa kiamat sudah dekat, bagaimana tidak? Nabi-nabi hingga tuhan-tuhan palsu dari Mirza Ghulam Ahmad hingga boyband SM*SH pun diakui sebagian orang.

    Tepat pukul 11:11 tanggal 28 April 2012 lalu, ketika saya sedang browsing dan sekedar melihat-lihat di Facebook, saya menemukan sesuatu yang tidak mengenakkan, berbau SARA dan harus dilaknat manusia dan sudah pasti dilaknat Tuhan, sesuatu tersebut adalah fan page Facebook dengan judulnya yang jelas menduakan Tuhan (SMASH Tuhan Kita Semua).

    Ketika saya telusuri, Astaghfirullah, isinya memang benar-benar berbau SARA, dan kelihatannya admin fan page ini pun berniat membuat agama baru di Indonesia ini, terlihat dari status-statusnya yang terlihat jelas menduakan dan melecehkan Tuhan.



    Penyakit apa yang hinggap di diri Admin fan page terlaknat ini? Apa dia kena Skizofrenia? Apa sesuatu yang buruk terjadi pada psikisnya? Sehingga dia berani membuat hal yang terlaknat seperti ini?

    Menurut saya, yang bisa kita lakukan adalah melakukan report terhadap Admin Facebook karena orang yang membuat fan page ini memakai Facebook sebagai platform fan page nya. Serta melakukan report terhadap Admin Twitter karena orang-orang laknat ini juga memakai jejaring sosial Twitter untuk menyebarkan hal menyimpang ini.

    Kalau perlu lapor polisi, saya mau melihat dengan mata kepala saya sendiri (tapi melihatnya di TV, bukan secara langsung, hehehe) muka Admin laknat dibawa polisi, masuk penjara lalu dia semakin diejek dan digunjing di Internet.

  • Salah Satu Hal Terbaik: Mengetahui UN Sudah Selesai

    Setelah melalui masa-masa keras selama UN, diantaranya dilarang keluar rumah (bahkan membuka pintu rumah dilarang selain untuk pergi les, ke sekolah dan sholat Jumat), dilarang menyalakan (bahkan menyentuh) laptop dan komputer serta diperpendek waktu untuk menonton TV. Akhirnya setelah 4 hari yang penuh proteksi tersebut, akhirnya UN selesai juga.

    Dimulai dari pukul 08:00 pagi di sekolah, membahas beberapa soal yang dianggap sulit didepan kelas serta berhati-hati terhadap pengawas UN yang galak, mengerjakan soal-soal dan menghitamkan bulatan jawaban dengan hati-hati, dan gembira setengah mati karena mengetahui bahwa UN sudah selesai, benar-benar selesai. Setelah UN selesai kawan-kawan berencana untuk melakukan corat-coret baju sekolah dan konvoi kelulusan, tapi saya tidak ikut-ikutan karena akan berkumpul bersama Ade dan Reza untuk keluyuran di Medan dan nonton "Modus Anomali" di 21 Cineplex.

    Kalau dipikir-pikir, saya menganggap bahwa mengetahui UN sudah selesai adalah hal terbaik dari salah satu hal-hal bagus yang pernah saya ketahui. Tapi saya sendiri masih harus berdoa dan belajar, karena pengumuman kelulusan juga membuat deg-degan dan untuk masuk ke SMAN 1 Medan sepertinya bakal dikasih test yang lebih berat dari UN. Kita lihat saja nanti.

    Omong-omong sekali lagi post saya tentang terasa cepatnya waktu berjalan terbukti benar.

  • Copyright @ 2013 DiscoverBramasta.