Fast Forward: SBMPTN!

Pra-9 Juni

Setahun lebih berlalu setelah saya terselip diantara emak-emak lalu pindah ke Makassar, masuk sekolah baru, dapat teman-teman baru, brand new house! Et cetera. Ujian Nasional SMA telah lewat, seperti anak-anak post-UN kebanyakan, teman-teman di sekolah pada seru membicarakan program studi apa yang jadi target utama mereka untuk dipelajari, berikut perguruan-perguruan tinggi yang menyediakannya. Saking asyiknya mereka ngobrol tentang perguruan tinggi dan persiapan mereka menghadapi Students' Ultimate Challenge (SBMPTN 2015), saya jadi takut sendiri, bagaimana jika saya tidak lolos seleksi undangan (SNMPTN 2015) sedangkan membuka dan mengerjakan soal-soal SBMPTN tahun-tahun sebelumnya saja hanya saya lakukan di tempat les yang pertemuannya hanya dilakukan selama 3 jam sehari? Kalau ada diantara kalian yang merasa UN tidak adil karena "hanya" dilakukan selama beberapa hari padahal persiapannya perlu minimal tiga tahun (personally saya rasa UN oke-oke saja sih, dan argumen "perlu persiapan panjang" pun saya rasa bukan argumen yang valid, mengapa? Lain cerita), silakan anda ganti "UN" jadi "SBMPTN", karena prestasi yang pernah anda capai tak punya pengaruh disini, dan tesnya pun hanya dilakukan selama maksimal dua hari.

Credit goes to albertogp123
...Dan ketika saya melihat pengumuman jalur undangan, heh, sialnya saya nggak lulus jalur undangan. SBMPTN dan Jalur Mandiri adalah jalan satu-satunya, tapi orangtua saya pun merasa hesitant membiayai saya masuk Jalur Mandiri, mereka sangat percaya saya bisa lolos ujian SBMPTN.

Long story short, masa Pra-9 Juni boleh dibilang merupakan salah satu masa paling lifeless di hidup saya, karena rasa khawatir berlebihan yang timbul akibat ulah saya sendiri itu membuat segala hal yang saya lakukan jadi ikutan tidak enak, sedang tidur malah mimpi tentang SBMPTN, apalagi saat main game, terdengar bisikan "SBMPTN tinggal beberapa minggu lagi, dan lo malah main game? Nggak mau lulus ya!?", entah malaikat atau setan yang membisikan hal-hal seperti itu ke saya. Anehnya lagi segala bisikan yang muncul nggak berhasil membujuk saya agar mau membuka buku dirumah, kelewat malas, tapi semalas-malasnya saya di rumah, entah kenapa kemauan untuk belajar serius bisa saya dapatkan di tempat les, masalah environment mungkin? Atau karena kamar saya saja yang seperti kapal pecah? Atau mungkin malah rumah yang saya tinggali juga ditinggali banyak jin penggoda? Entahlah, bagaimanapun saya hanya punya 3 jam sehari, don't you Goddamn waste that fraction of time. Apakah cukup? Entahlah, biar penguasa langit yang membuat keputusan.

D-Day!

Eits, sebenarnya bukan D-Day (Hari-H) sih, mungkin lebih cocok dikatakan persiapan SBMPTN. Selain mendaftar ke PTN tujuan, saya juga mendaftar ke Politeknik Negeri Ujung Pandang, dilakukan beberapa hari sebelum SBMPTN, saya rasa momen ini bisa dipakai membiasakan diri agar tidak tegang waktu ujian. Tesnya terdiri dari Matematika IPA yang dicampur dengan Matematika Dasar, kemudian Fisika, Kimia, Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Alhamdulillah saya bisa mengerjakannya dengan lancar, meski porsi soal-soal Fisika yang saya kerjakan ternyata jauh lebih sedikit, menyadarkan saya bahwa pemahaman Fisika dasar saya masih kurang, padahal program studi yang saya ingin pelajari di Politeknik ini (Teknik Mekatronika) pasti bakal berkutat sekitar hitungan-hitungan dan teori Fisis. Meski soal Matematikanya lebih nyaman saya kerjakan, tapi saya yakin di real-life pengaplikasian Teknik Mekatronika bukan cuma hitung-hitungan doang. Iya kan? Anyhow again, biar penguasa langit yang membuat keputusan.

The Real D-Day!

9 Juni pun tiba! Setelah sedemikan keras perjuangan yang dilakukan, penentuan apakah perjuangan tersebut bakal percuma atau tidak akan ditentukan oleh beberapa jam ujian ini. Setelah mengisi bagian biodata di LJK dengan penuh kehati-hatian, soal Saintek pun saya buka.

Holy God of the universe, what the actual heck am I looking at?

Saya nggak perlu bicara banyak tentang mengerjakan soal Saintek ini, awalnya saya hanya bisa mengerjakan tak lebih dari sebelas soal. Semuanya soal Matematika. Hingga sang pengawas pun memberitahukan bahwa waktu pengerjaan soal hanya tersisa 10 menit. Tiba-tiba otak bagaikan masuk mode blitzkrieg. Entah kenapa tiba-tiba saya bisa mendapat jawaban dari beberapa soal lainnya (atau mungkin saya hanya masuk jebakan soal, entahlah), dan hasilnya pun sebenarnya tidak bisa dibanggakan, hanya 1/4 bagian dari jumlah soal Saintek yang saya dapatkan jawabannya.

Istirahat sebentar, kemudian waktu untuk mengerjakan soal TPA pun tiba, dan Alhamdulillah saya lebih lancar bekerja disini, 2/3 dari jumlah soal yang ada sukses saya kerjakan, meski mungkin ada beberapa soal yang sukses menjebak saya, dan tidak saya ketahui bahwa jawaban tersebut adalah jawaban jebakan hingga waktu ujian selesai.

Aftermath

Hari pengumuman pun tiba, well, Alhamdulillah saya lulus kedua tes tersebut, saya diterima pada pilihan pertama: prodi Teknik Elektro di Universitas Hasanuddin. Rasa pun bercampur aduk, mungkin saya bisa coba peruntungan di Universitas lain yang memiliki peringkat lebih tinggi? Begitu juga dengan Politeknik, kenapa tak terpikirkan untuk coba peruntungan juga di Politeknik lain, seperti ke Politeknik Manufaktur Negeri Bandung, misalnya. Tapi setelah melihat kembali ke masa saya mengerjakan tes, dan mengingat bahwa sebenarnya soal TPAlah yang menyelamatkan saya dari ketidaklulusan saya di SBMPTN, mungkin saja bahwa memang inilah hasil terbaik yang bisa saya peroleh.

Akhirnya, di suatu tempat di alam semesta, setitik kecil manusia terlihat bingung jalan mana yang akan ditempuhnya, belokan mana yang lebih baik untuk dia lalui, karena setelah satu langkah tertempuh, kearah manapun itu, dia tak akan bisa berhenti dan tak bisa kembali ke awal.

Menghadapi Kejutan Hidup

Pada suatu sore, disebuah tempat dekat ujung Sumatera bernama Medan (di daerah Gedong Johor, to be a lil' bit exact), berjalan sebuah angkot, P25 nomornya, kuning warnanya. Didalamnya duduk penumpang dari berbagai rentang periode, mulai dari kakek-kakek dengan tongkatnya, duduk diam tak bersuara sambil sesekali melihat sekitar angkot, emak-emak bertubuh besar lengkap dengan sebuah keranjang bambu yang tak kalah besar berisi sayuran di pangkuannya, kakak-kakak (mbak-mbak) berbaju almamater dengan beberapa buku tebal dipelukannya (*cough*), hingga anak-anak jalanan yang menggantung-gantung di pintu angkot. Angkot P25 terbilang agak jarang melewati trayek Gedong Johor diwaktu sore, sedangkan calon penumpangnya boleh dibilang sangat banyak. Tidak perlu kaget melihat mereka berusaha memuatkan diri duduk di angkot tua yang agak miring karena kelebihan beban dan angkotnya pun somehow masih bisa jalan.

Seandainya anda juga, by any chance, berada di salah satu angkot dengan ciri-ciri tersebut, coba lihat diantara 2 emak-emak yang mungkin duduk didekat anda. Mungkin anda bisa melihat seekor anak manusia umur 16 tahunan dengan baju Hard Rock dan celana pendek terselip berusaha mengumpulkan nyawa. Jika benar ada, bisa dipastikan itu (99% odds) adalah saya.

Tapi bukan itu yang mau saya ceritakan, singkat kata, setelah melihat ke jendela dari celah-celah manusia saya akhirnya sampai di tujuan, turun, mengambil nafas yang sangat panjang lalu membayar Rp3000 ke sopir angkot. Sampai di rumah, minum air, lalu datang mama saya.
A: Ibu saya | B: Saya sendiri

A: Bram
B: Yak mah
A: Beberapa hari habis kamu rapotan kita bakal pindah ke Makssar
B: *semi-kaget* Ha? Pindah? Ngikutin Papa tinggal disana?
A: Ya, lagian juga banyak keluarga mama disana.

Kaget memang, mengingat beberapa bulan lalu waktu bapak saya pindah kerja ke Makassar nggak pernah terpikir oleh keluarga untuk pindah keluar Medan sebelum tamat SMA. Lebih-lebih keluar Sumatera. Curious dan merasa tidak enak karena harus pindah dari Sutomo, saya bertanya lagi

B: Terus sekolahnya gimana? Emang ada yang mau nerima pindahan siswa ke kelas 3?
A: Ya, memang susah nyarinya, tapi kenalan mama udah cariin dapat buat kamu kok.
B: Yeah? Apa namanya?
A: SMA Katolik Cenderawasih

Woot!? SMA Katolik? I got even more surprised! In the first place sebelum pindah ke Medan ayah saya cukup banyak memberikan pendidikan yang boleh dibilang sangat religius. Ditambah lagi setelah pindah ke Medan (anekdot: sebelumnya saya -dan keluarga besar saya- pun ikutan kaget ketika hidup mengharuskan keluarga kecil kami pindah dari ujung Jawa [Surabaya] ke ujung Sumatera [Medan]) saya masuk ke jenjang SMP, saya masuk ke SMP Harapan 2 Medan yang notabene merupakan sekolah Islam. Memang sih, dari teman-teman saya di SMA Sutomo yang pendidikannya berorientasi sekuler dan mayoritas etnis Tionghoa beragama Buddha, saya jadi lebih mengerti gimana sih cara mereka menjalani hidup (sebenarnya nggak jauh beda juga sih) dan banyak hal-hal yang seems trivial buat saya. Then God decide to send me to the middle of the Catholic community. Saya jadi berpikir di masa depan nanti, kejutan hidup apa lagi yang bakal saya dapatkan. Anyway, memang tampaknya saya harus move on dari Sutomo, life's truly unpredictable, eh?

Dinamit yang Berbohong

Barusan dikirimin YouTube video dari Ade Naufal, dapat dipakai untuk bahan ketawa, pelajaran bagi kita untuk "tidak sok berani untuk lompat kedalam kolam hiu" dan tak sembarangan mencari video editor untuk bahan promosi, belajar Adobe After Effects secara full dan tidak setengah-setengah, serta dijadikan bahan pertimbangan untuk beberapa diantara kalian yang berencana menipu calon pebisnis.


Update: Ternyata videonya sudah dihapus dari YouTube, silahkan simpulkan sendiri apakah grup MLM ini legit atau tidak. 

Ada belasan orang --menyebut diri mereka "Team A Dinamit"-- yang cukup berani untuk diejek pengguna YouTube dan netters dengan menunjukkan tampang mereka didepan green screen serta meneriakkan propaganda untuk bergabung dengan bisnis mereka, dari deskripsi yang dituliskan, video ini diketahui merupakan promosi bisnis MLM Melia Sehat Sejahtera (mulai sekarang hati-hati [kalau perlu jauhi] dengan group ini).  Jika dirasa sulit menemukan bukti bahwa video ini sekedar editan, perhatikan background yang mereka klaim adalah menara Eiffel, terlihat goyang-goyang. Manipulasi latar seperti ini dapat dilakukan dengan cukup mudah menggunakan teknik chroma keying. Masalahnya, editor video ini asal-asalan mengambil rekaman video Eiffel Tower untuk dijadikan background, hasilnya? Bahan ketawa yang cukup menarik untuk saya.

Beberapa menit kemudian Ade mengirimkan lagi video lain yang merupakan balasan untuk video ini, berlatar di Marina Bay Sands, Singapura:

Update 2: Check this out, ketemu karena saya penasaran sendiri tentang grup MLM yang satu ini... Ah, well... Bagi anda yang merasa offended karena penipuannya diejek, perlu ditegaskan anda tak berhak untuk marah, I see no reason to respect you, liar!